line decor
   Selamat datang di web kominfo kota palangka raya
line decor

Kembali Ke Halaman DepanBack


LAMBANG ISEN MULANG


 

 

Berdasarkan Perda Kodya Dati II Palangka Raya Nomor : 1/DPRD.GR/1970

Bentuk
Badge berbentuk Persegi

Tata Warna
Hitam, Hijau, Kuning dan Putih

Tulisan
Kata-kata "PALANGKA RAYA" Putih di atas dasar hitam dan "ISEN MULANG"

Lukisan
- Bundaran Hijau
- Setangkai Padi berdaun emas dan tujuh belas butir buah
- Setangkai kapas berdaun lima helai dan enam buahnya yang sudah mekar putih
- Mandau dan Sumpit
- Bunga Melati di dalam Bundaran, berintikan bundaran kecil yang dihubungkan dengan jalur-jalur jalan

Susunan
- Dibagian atas melintang bidang lengkung berwarna hitam, bertahtakan aksara dengan huruf-huruf balok putih "PALANGKA RAYA"
- Ditengah-tengah dilukiskan sebuah bundaran, jalur-jalur jalan dan bundaran kecil sebagian didalamnya.
- Mandau dan Sumpit menyilang dibelakang bundaran, setangkai padi dan kapas
- Dibagian bawah sehelai Pita Putih dengan tulisan huruf balok warna hitam "ISEN MULANG"
- Warna dasar ialah hijau dan kuning ditengah-tengahnya
- Garis tepi lambang ialah hitam


ARTI DAN PENGERTIAN LAMBANG DAERAH KOTA PALANGKA RAYA

Umum

  1. Perisai adalah alat penangkis, merupakan salah satu alat kelengkapan untuk mempertahankan diri, walaupun pemiliknya/pemegangnya nampaknya bersahaja, namun pada hakekatnya selalu ingin selaras dan sesuai dengan perkembangan jaman, terus maju berjuang melawan kemelaratan untuk menegakkan kebenaran yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan berdasarkan Undang Undang Dasar 1945 dan Pancasila.
  2. Bidang lengkung hitam bertahtakan aksara " Palangka Raya " putih, melambangkan kehidupan suci, bersih, teguh dan kokoh oleh karena itu sifatnya kekal.
  3. Bunga melati berdaun lima di tengah, melambangkan kepamongprajaan yang menghiasi petugas-petugas / pejabat-pejabat pamongpraja di Indonesia.
  4. Bundaran di dalam, melambangkan sejarah asal mula terjadinya sebuah kota (merupakan alun-alun atau kegiatan penduduk), kemudian dihubungkan dengan jalur-jalan kesegala jurusan sebagai syarat pengembangan kota.
Khusus
  1. Palangka Raya terdiri dari kata-kata "Palangka dan Raya" ( Palangka Bulau ) berasal dari suatu wadah bernama Palangka (bagian muka dan belakang, melukiskan bentuk dan gambar burung elang) yang menurut kepercayaan leluhur / nenek moyang suku dayak, dipakai oleh Ranying Mahatala Langit (Tuhan Yang Maha Esa ) untuk menurunkan manusia pertama keatas dunia.
  2. Setangkai padi berdaun emas helai dan tujuh belas butir buahnya, setangkai kapas berdaun lima helai dan enam buahnya yang sudah mekar dan putih, melambangkan saat peresmian Pemerintah Kota Palangka Raya mulai berotonomi penuh pada tanggal 17 Juni 1965.
  3. Warna dasar hijau menyatakan secara geografis wilayah Kota Palangka Raya 75 % terdiri dari hutan dan danau, berartikan kesuburan. Warna dasar kuning melambangkan kejayaan, cerah, terbuka dan berkembang.
Arti Keseluruhan Lambang
  1. Keberanian / kemauan membangun Kota Palangka Raya dari suatu daerah hutan, menjadi kota bersemboyan " ISEN MULANG ", dengan modal alam dan tenaga demi kejayaan negara pada umumnya dan rakyat Kalimantan pada khususnya.
  2. Dilengkapi dengan amal, kegiatan, cita-cita dan tekad kepamongprajaan bersemboyan " Tut Wuri Handayani " untuk membina / membimbing masyarakat ke arah kesejahteraan rohaniah dan jasmaniah berpedoman falsafah negara Pancasila.

 

Arti Kata Isen Mulang Bagi Masyarakat Kalteng

Sebagian orang mungkin bertanya-tanya “apa arti Isen Mulang?” atau “apa sih maksud Isen Mulang?” bahkan mungkin bagi kalangan akademisi mungkin bertanya-tanya “pengertian Isen Mulang”.

Secara sederhana kata “Isen Mulang” dapat diartikan sebagai semangat Pantang Mundur.

Kata Isen Mulang ini juga terkandung dalam Lambang / Simbol / Logo Provinsi Kalimantan Tengah (Kalteng) karena kata Isen Mulang mengandung makna yang besar bagi Masyarakat Kalimantan Tengah (Kalteng) secara umum.

 

Asal Kata Isen Mulang

Isen Mulang sebenarnya merupakan kata yang diambil dari teks sebenarnya yang bertuliskan “Isen Mulang Pantang Mundur Dia Tende Nyamah Nggetu Hinting Bunu Panjang”.

 

Isen Mulang dan Bahasa Dayak Sangiang Kalteng

Kata-kata Isen Mulang dalam teks sebenarnya di atas merupakan teks yang ditulis menggunakan Bahasa Sangiang yakni Bahasa Dayak yang tertua di Kalimantan Tengah (Kalteng). Bahasa Sangiang ini hingga sekarang masih banyak digunakan  oleh Suku Dayak yang beragama Kaharingan untuk melakukan ritual keagamaan dan komunikasi dengan yang maha kuasa.

Nah kita kembali ke istilah Isen Mulang… Kata Isen Mulang sengaja diambil sebagai simbol semangat juang masyarakat Kalteng untuk membangun daerah, khususnya Kalimantan Tengah tanpa henti-hentinya sampai tutup usia atau titik darah terakhir.

 

Perisai Khas Kalimantan Tengah

Kalimantan Tengah - Talawang jika diterjemahkan secara sederhana berdasarkan segi bahasa maka berarti sebagai sebuah perisai atau alat penangkis dan pertahanan dari serangan musuh.

Talawang juga digunakan sebagai bentuk resmi logo Provinsi Kalimantan Tengah maupun Kota Palangka Raya bahkan hampir semua logo pemerintahan di Provinsi Kalimantan Tengah menggunakan Bentuk Talawang ini sebagai struktur dasar logo Pemerintah Kabupaten maupun Kota.

Secara filosofis “Talawang Kalteng” ini melambangkan kewaspadaan serta kesanggupan mempertahankan diri dengan konsekuen.

"Enggang" melambangkan kekuasaan di atas sedangkan "naga" melambangkan kekuasaan di bawah. Kedua lambang ini sangat umum didapatkan di kalangan masyarakat Dayak baik di Kalimantan Barat, Timur dan Tengah. Dengan kata lain, enggang dan naga adalah ungkapan lain dari, katakanlah, Tuhan (Hatala). Artinya orang Dayak itu tidak lain daripada putra-putri Hatala yang mempunyai misi hidup untuk mejadikan  bumi (lewu) sebagai tempat kehidupan manusiawi sesuai dengan Lewu Hatala. Apabila mereka gagal melaksanakan misi hidup dan mati ini maka putra-putri Hatala, rengan tingan nyanak jata, ini akan menjadi hantu (kambe)yang tidak diterima kembali oleh Hatala. Ia akan menjadi pengembara tanpa akhir Menelusuri Jalur-jalur Keluhuran. Sebuah Studi Tentang Kehadiran Kristen di Dunia Kaharingan di Kalimantan",  BPK Gunung Mulia, Jakarta 1983).
 
Ketika menjawab tantangan ini maka rengan tingang nyanak jataitu memekikkan lahap , manakir petak (menumiti bumi) dan mengikatkan kain merah di kepala mereka (lawung bahandang)¨, pertanda semangat isen mulang (pantang mundur) jika tak berhasil melaksanakan misi mereka tak akan pulang. Isen mulang ini oleh propinsi Kalteng dijadikan moto propinsi sehingga Kalteng  sering  juga dikenal dengan sebutan "bumi isen mulang" yang lengkapnya bermakna biarkan nama saja yang kembali apabila gagal merampungkan misi.
 
Ini adalah inti dari gejala-gejala yang sering kita lihat dalam kehidupan sehari-hari di Kalteng, terutama di kalangan komunitas Dayak Ngaju. Apakah nilai-nilai ini masih relevan dalam menghalau keterpurukan? Saya kira ya! Karena itu dalam melakukan perberdayaan agar pesan-pesan yang ingin disampaikan supaya cepat ditangkap, gampang dicerna, saya kira menafsirkan budaya daerah sangat diperlukan. Nilai-nilai yang relevan begini, mengapa patut dikikis? Berbeda misalnya dengan budaya kayau (potong kepala untuk keperluan ritual). Tapi inipun patut diberikan penafsiran bahwa dewasa ini yang patut dikayau itu adalah keterpurukan itu sendiri. Bentuknya tentu saja disingkirkan, tapi nilai positif di dalamnya patut diangkat.
 
Kemudian  nilai-nilai lokal ini diterapkan pada sarana baru kekinian. Perihal sarana inipun kiranya kita patut memperhatikan sarana yang sejak lama ada di dalam masyarakat, misalnya Masyarakat Adat (MA) yang oleh Orde Baru (Orba) secara sistematik dihancurkan tapi sampai sekarang masih memainkan peranan dan masih tanggap zaman. Sampai pada hari ini MA masih membuktikan efektifitasnya dalam menangani soal-soal dalam masyarakat, mulai dari soal besar , seperti Tragedi Sampit Februari 2001 sampai ke soal-soal kecil kehidupan sehari-hari. Menggunakan nilai-nilai budaya lokal untuk menjawab tantangan kekinian dan keterpurukan inilah yang juga saya maksudkan sebagaiujud kongkret dari revitalisasi budaya lokal itu.